Budaya Adiluhung Hanya Ditemukan di Batik Tulis

Sebagai upaya pelestarian dan pengembangan batik tulis, Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad menggelar Pagelaran Mahakarya Pusaka Kemanusiaan Lisan dan Tak Benda Batik Tradisional Jogjakarta di Puro Pakualaman Sabtu (28/4). Pagelaran ini tergolong langka. Sebab, untuk pertama kalinya koleksi batik tulis dari Keraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman dipamerkan bersamaan.
Koleksi batik koleksi keraton yang dipamerkan antara lain milik GKR Hemas. Ada motif Parang Barong Purnama, Kawung Naga Raja, Jatayu, dan Ceplok Purbonegoro Nithik. Koleksi Pura Pakulamanan yang dipamerkan antara lain koleksi BRAy Atika Suryodilogo seperti motif Wilaya Kusumajan Latar Beras Wutah.
”Pegelaran ini sebagai penegasan bahwa masyarakat Jogjakarta mencintai batik tulis sebagai warisan adiluhur kerajaan Mataram,” ujar Ketua Paguyuban PPBI Larasati Suliantoro Sulaiman).
Ada puluhan koleksi batik tulis yang dipamerkan yang acara yang dijadwalkan hingga hari ini tersebut.
Menurut Suliantoro, batik telah menjadi bagian dari pusaka dunia yang patut dibanggakan dan telah diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unesco) pada 2009. Namun yang disayangkan, ujarnya, keberadaan batik tulis semakin tersisihkan dengan keberadaan batik printing.
Dia menegaskan kaum perempuan seyogianya mulai menggunakan batik tulis dalam berbusana. ”Siapa bilang batik tulis itu mahal. Kalau perempuan mau membatik, tentunya batik akan terjangkau dan tidak mahal,” imbuhnya.
Ditambahkan, tradisi membatik menghadapi banyak tantangan. Menurut Suliantoro, sekitar 1950 para perajin batik di Pekalongan sempat mengalami krisis kain mori. Lalu pada 1980 perajin batik mulai mendapat saingan dengan munculnya tekstil bermotif batik (printing). ”Akhirnya banyak perajin batik beralih profesi karena batiknya tak laku. Masyarakat lebih memilih batik printing,” ujarnya.
Ketika batik Indonesia mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dari Unesco justru batik printing lebih merajai pasaran batik. Bahkan, negara luar seperti Tiongkok, Inggris, dan Amerika Serikat juga membuat batik. ”Batik itu karya yang ditulis oleh tangan manusia, bukan dicetak. Kalau dicetak bukan batik namanya,” tegasnya.
Sulaintoro memaparkan, dalam suluk batik poin ajaran difokuskan pada penerapan pematangan perilaku mulia berdasarkan kesempurnaan. Jadi, kain batik yang dikerjakan oleh perempuan  merupakan metafor dari perilaku yang hendak dibentuknya.
Wakil Geburnur DIJ Paku Alam IX mengkatakan, kerajinan batik tulis harus dilestarikan dan dikembangkan. Caranya, ungkap dia, kaum perempuan harus kembali untuk mencintai batik tulis. ”Batik printing boleh saja beredar. Tetapi yang mengandung nilai-nilai seni, sejarah, dan budaya adiluhung hanya ada di batik tulis,” ujarnya.

(Sumber:  www.radarjogja.co.id; Monday, 30 April 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar